Selasa, 31 Desember 2013

Aku mencintai dan membencimu oppa

Apa kabar dunia yang menghilang? Aku kembali 😂
   Kembali untuk kemarin, kembali untuk hari ini dan kembali untuk besok.Tapi aku pun tak mengerti artinya kembali. Apakah kembali itu sama dengan datang tiba-tiba ntah darimana dan berkata "tadaaaaaa, aku datang lagi" Aaah, apakah hidup ini mudah? Atau justru begitu sulit? Kalau diminta berhitung, aku akan cepat menghitung tapi aku akan menyesal. Karena setelah hitungan itu selesai, aku sadar ada banyak waktu yang kulewatkan sia-sia. Malam ini, akhir 2013. Banyak pikiran berkecamuk. Mendorongku untuk mengingat segala asam-manis waktu yang kulewati dalam setahun terakhir. Jika diingat-ingat tahun ini terlalu banyak pahit darimana manis. Mungkin di awal tahun 2013 lalu aku terlalu sedikit memberi gula dalam kopi yang akan kuminum. Mungkin saja aku terlalu percaya diri bahwa tanpa berusaha atau lebih tepatnya sedikit berusaha aku dapat menikmati akhir yang indah. Inilah hidup.
  Saat ini tiba-tiba aku merindukan seseorang. Merindukanmmu kakak. Apa sekarang kau membaca tulisanku? Apa kau juga tak merindukanku? Aneh rasanya jika aku memanggilmu kakak disini. Haruskah aku tulis oppa? Seperti biasa aku mengirim pesan dan memanggilmu Oppa. Banyak yang ingin aku katakan dan tanyakan padamu. Banyak yang ingin aku ungkapkan. Mungkin rentetan kalimat ini memuakkan. Tapi seperti inilah. Tepat seperti inilah, bahasa yang digunakan saat kita menonton drama korea dan membaca subtitlenya. Menggunakan aku dan kau. 
   Oppa, apa kabarmu? Sudah makankah? Aku merindukanmu oppa.
   Pesan terakhirku yang sempat kukirim padamu, ntah kau terima atau tidak? Atau mungkin kau sudah bosan untuk membalasnya dan berpura-pura tidak tau saat aku mengirimnya. Aku selalu berharap kau ada didekatku. Setidaknya walaupun kau jauh, kau masih berkomunikasi denganku. Oppa, bila kau memang bosan katakanlah. Walaupun menyakitkan. Pernahkah kau berpikir bahwa aku juga bosan. Aku bosan dan lelah menantimu. Aku selalu menguatkan diriku, memang tak banyak membantu karena setelah itu aku langsung menangis. Menghambur ketembok terdekat dan menangis sekencang-kencangnya. Apakah aku lemah dihadapanmu? Apakah aku tak bisa walau hanya menjadi adikmu? Atau mungkin aku hanya boleh memandangmu dari jauh. Sepertinya dugaanku benar. Jangan khawatir oppa, aku senang ditempatku. Mungkin kau tau bahwa aku selalu memandangmu dari jauh. Tapi tak masalah bagiku. Selama kau senang, aku pun akan senang. Terkadang aku bertanya-tanya, apakah kau merindukanku seperti aku merindukanmu oppa? Apa kau juga menungguku seperti aku menunggumu? Aku pulang dengan langkah gontai, aku menunggumu di halte bis tapi kau tak datang, hujan turun deras dan petir datang menggertak. Aku pulang kerumah, bercermin dan melihat diriku. Aku sendiri tak tega melihatnya. Aku hanya mampu tersenyum getir menerima kenyataan bahwa kau hanyalah bayangan. Walaupun kau muncul didepanku tapi aku tidak bisa meraihmu. Sekalipun kau nyata dan ada didepanku kau seperti jauh. Dan saat kau ada jauh dari hadapku, kau seakan dekat. Sedekat ini hingga aku bisa melihat warna asli kornea matamu.

Aku mencintai dan membencimu oppa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for leaving comment in this entry :))